| Opini atas Perayaan 50 tahun Persahabatan IND-JPN |
|
|
|
Minggu ini puncak perayaan peringatan 50tahun persahabatan Indonesia-Jepang akan berlangsung. Mandat dari bos untuk hadir pada saat itu disampaikan dengan cara memberi kartu pass untuk masuk lokasi .
Sebenarnya tanpa dikasih kartu pass saya memang sudah niat mau ajak
keluarga ke sana, tujuan utama adalah foto bareng Dora emon sang duta
budaya nya Jepang. Tujuan lainnya mau makan tako yaki.
Kedua alasan tersebut sungguh simple ya, cenderung dangkal. Jelas
sekali sikap permisif saya terhadap hakekat perayaan ini. Sikap masa
bodoh ini bukan hanya milik saya semata lho, banyak kok orang yang
tidak peduli. Jangan kan orang Indonesia yang awam dengan budaya Jepang
dan tidak punya jaringan pergaulan dengan mereka, Lha kita saja yang
sehari-harinya berjibaku sama mereka banyak yang tidak mudeng sama
perayaan ini. Apalagi orang Jepang yang ada di negaranya sana, yakin
deh pasti jumlah mereka yang tidak tahu menahu alias tidak mau tahu
tentang hal 'persahabatan 50 tahun ' ini jumlahnya jauh lebih banyak.
Belum lagi kebiasaan orang Indonesia yang suka menjatuhkan martabat
diri sendiri dan mau menang (senang) sendiri , memberikan kontribusi
yang sangat besar dalam menciptakan ketimpangan kerjasama ini.
Pemerintah dengan SKBnya, terang-terangan menjual murah tenaga buruh.
Demi masuknya devisa dari investasi-investasi mereka, pemerintah tidak
keberatan tuh menyediakan tenaga murah yang bisa ditendang kapan saja.
Selain pemerintah ada juga sikap bos-bos lokal yang maunya enak
sendiri, seperti bos HRD yang mengajukan pemangkasan uang lembur (tapi
tetap nyuruh lembur), atau bos purchasing yang minta seluruh
keluarganya jadi suplier kantor lalu harga di mark up habis! Belum lagi
kisah jual beli limbah yang uangnya di habisin sendiri kan harus nya
masuk kas kantor dong! biar bisa di jadikan dana kesejahteraan yang
dapat di rasakan semua karyawan. Dan masih banyak sikap serta kebijakan
manajemen lokal yang kontradiktif dengan semangat menaikkan harkat
bangsa (baca: pekerja) di mata dunia (baca: bos Jepang).
Bila upah dan penghargaan diberikan secara pas (bukan cukup lho) dan
juga budaya saling menghormati itu terlaksana dengan baik, kinerja yang
akan di hasilkan pasti lebih dahsyat. Semisalnya waktu saya arubaito di
pabrik waktu di Jepang, upah nya sip..penghargaan juga bolehlah kalo
kerja nya bagus dipuji atau semua karyawan satu floor (paling 10
orang-an sih) diajak karaoke atau makan-makan. Makanya saya suka aneh
kok orang-orang Jepang yang ada di sini banyak yang belagu. Padahal
pengalaman waktu di sana kenalan dengan bangsa mereka, orangnya pada
asik-asik aja. Hal ini pernah jadi pembicaraan olehStaf Jepang di
kantor saya. Mereka heran banyak orang Jepang sombong di Jakarta
ini...huh..( kesimpulan saya utk hal ini adalah karena bangsa kita juga
sih yang berlakukan mereka bak raja, coba biasa-biasa aja gak usah
jilat-jilat! Pasti mereka hormat ke kita)
Menurut pandangan saya, baru dalam hal
pertukaran budaya kita berdua impas . Mereka kagum dengan budaya kita,
begitu juga sebaliknya. Mereka banyak belajar tentang budaya kita, kita
pun belajar mengenai kebudayaan mereka, baik yang tradisional maupun
yang modern. Berapa banyak manga mereka dicetak secara kontinyu oleh
penerbit kita, belum lagi semangat cosplay yang cukup heboh dan
dandanan ala Harajuku yang sempat ngetrend abis!
(10th Anniversary The Daily Jakarta Shimbun,
Together with Indonesia for 10 years)
|
mXcomment 1.0.6 © 2007-2009 - visualclinic.fr
License Creative Commons - Some rights reserved
| Berikutnya > |
|---|













