Online Visitors

Opini atas Perayaan 50 tahun Persahabatan IND-JPN PDF Cetak E-mail
 
Ditulis Oleh Melany Deviana, pada Sabtu, 08 November 2008
Dilihat 229    
Indonesia Japan Expo 2008
Minggu ini puncak perayaan peringatan 50tahun persahabatan Indonesia-Jepang akan berlangsung. Mandat dari bos untuk hadir pada saat itu disampaikan dengan cara memberi kartu pass untuk masuk lokasi .

"Ini kerja jadi datang ya!" Kata Bos.
"Asiik Over time dong?!!" Saya iseng tanya.
" no oba taimu (over time)" Balas Bos sambil nyengir.

Sebenarnya tanpa dikasih kartu pass saya memang sudah niat mau ajak keluarga ke sana, tujuan utama adalah foto bareng Dora emon sang duta budaya nya Jepang. Tujuan lainnya mau makan tako yaki.
 
Kedua alasan tersebut sungguh simple ya, cenderung dangkal. Jelas sekali sikap permisif saya terhadap hakekat perayaan ini. Sikap masa bodoh ini bukan hanya milik saya semata lho, banyak kok orang yang tidak peduli. Jangan kan orang Indonesia yang awam dengan budaya Jepang dan tidak punya jaringan pergaulan dengan mereka, Lha kita saja yang sehari-harinya berjibaku sama mereka banyak yang tidak mudeng sama perayaan ini. Apalagi orang Jepang yang ada di negaranya sana, yakin deh pasti jumlah mereka yang tidak tahu menahu alias tidak mau tahu tentang hal 'persahabatan 50 tahun ' ini jumlahnya jauh lebih banyak.
 
Ya mungkin ini di sebabkan karena persahabatan cuma terjalin di kalangan pemerintah ( untuk ukuran negara) dan hanya di kalangan Manejerial (untuk ukuran perusahaan). Jadi yang merasakan madu persahabatan ya hanya mereka-mereka dikalangan ini saja. sedangkan yang cuma di level karyawan/ buruh boro-boro bersahabat, bisa survive tidak masuk daftar putus kontrak saja sudah bagus.

Belum lagi kebiasaan orang Indonesia yang suka menjatuhkan martabat diri sendiri dan mau menang (senang) sendiri , memberikan kontribusi yang sangat besar dalam menciptakan ketimpangan kerjasama ini. Pemerintah dengan SKBnya, terang-terangan menjual murah tenaga buruh. Demi masuknya devisa dari investasi-investasi mereka, pemerintah tidak keberatan tuh menyediakan tenaga murah yang bisa ditendang kapan saja. Selain pemerintah ada juga sikap bos-bos lokal yang maunya enak sendiri, seperti bos HRD yang mengajukan pemangkasan uang lembur (tapi tetap nyuruh lembur), atau bos purchasing yang minta seluruh keluarganya jadi suplier kantor lalu harga di mark up habis! Belum lagi kisah jual beli limbah yang uangnya di habisin sendiri kan harus nya masuk kas kantor dong! biar bisa di jadikan dana kesejahteraan yang dapat di rasakan semua karyawan. Dan masih banyak sikap serta kebijakan manajemen lokal yang kontradiktif dengan semangat menaikkan harkat bangsa (baca: pekerja) di mata dunia (baca: bos Jepang).

Bila upah dan penghargaan diberikan secara pas (bukan cukup lho) dan juga budaya saling menghormati itu terlaksana dengan baik, kinerja yang akan di hasilkan pasti lebih dahsyat. Semisalnya waktu saya arubaito di pabrik waktu di Jepang, upah nya sip..penghargaan juga bolehlah kalo kerja nya bagus dipuji atau semua karyawan satu floor (paling 10 orang-an sih) diajak karaoke atau makan-makan. Makanya saya suka aneh kok orang-orang Jepang yang ada di sini banyak yang belagu. Padahal pengalaman waktu di sana kenalan dengan bangsa mereka, orangnya pada asik-asik aja. Hal ini pernah jadi pembicaraan olehStaf Jepang di kantor saya. Mereka heran banyak orang Jepang sombong di Jakarta ini...huh..( kesimpulan saya utk hal ini adalah karena bangsa kita juga sih yang berlakukan mereka bak raja, coba biasa-biasa aja gak usah jilat-jilat! Pasti mereka hormat ke kita)
 
Menurut pandangan saya, baru dalam hal pertukaran budaya kita berdua impas . Mereka kagum dengan budaya kita, begitu juga sebaliknya. Mereka banyak belajar tentang budaya kita, kita pun belajar mengenai kebudayaan mereka, baik yang tradisional maupun yang modern. Berapa banyak manga mereka dicetak secara kontinyu oleh penerbit kita, belum lagi semangat cosplay yang cukup heboh dan dandanan ala Harajuku yang sempat ngetrend abis!

Tapi sepertinya baru dalam bidang kebudayaan ke dua bangsa ini duduk sejajar dengan tangan saling terpaut mesra. Mestinya Kemesraan dan keseimbangan hubungan harus turut diwujudkan di dalam aspek kehidupan dan bukan hanya dengan Jepang tapi juga dengan semua bangsa di bumi ini.
 
                                             (10th Anniversary The Daily Jakarta Shimbun, 
                                                           Together with Indonesia for 10 years)
Dipublikasikan di : , Lain-Lain
Jadikan favorit Print Kirim ke teman Artikel terkait

Komentar Pengunjung (2)
Dikirim oleh baluth, pada Jumat, 05 Desember 2008, , Registered
1. Salut
Duh ane salut abis ma nih kohai atu, analisa tajam disertai penyertaan masalah dan solusinya membuat ane leng-geleng kepala... 
pantesan kohai nyang atu lagi sakit kepala noh... (jeng Diana, bar-sabar ya....he he he)
 
» Report this comment to administrator
» Reply to this comment...

Dikirim oleh An Diana, pada Selasa, 11 November 2008, , Registered
2. euh...jepang..jepang.....
niat masuk sastra jepang karena pengen bisa ngertiin budaya mereka... 
 
setelah nyebur kebasahan, jadi sakit kepala... :upset  
 
ehem, mungkin bang Luthan bisa nebak deh alasanku ya? *himitsu ne* 
 
di acara hari Minggu kemaren, nyesel gak bisa ngeliat doreaemon,telat datengnya...tapi keseluruhan acara sih okelah.. 8)
 
» Report this comment to administrator
» Reply to this comment...

Add your comment



mXcomment 1.0.6 © 2007-2009 - visualclinic.fr
License Creative Commons - Some rights reserved
Berikutnya >
RSS 1.0
rss20.png
daftarthumb.png

Firefox 2