Online Visitors

Jepang dan AS 'Merayu' Pelajar Indonesia PDF Cetak E-mail
 
Ditulis Oleh ewien, pada Senin, 03 Maret 2008
Dilihat 1146    

scholarship.jpg Entah kebetulan atau tidak, dua negara maju Amerika Serikat (AS) dan Jepang, pada Ahad (10/2), secara serempak menggelar pameran pendidikan di dua tempat yang berbeda di Jakarta. Iming-iming beasiswa dari masing-masing negara cukup untuk menarik ribuan pelajar hadir dalam pameran tersebut.

Jepang melalui Japan Student Services Organization (Jasso) dan Bagian Pendidikan Kedutaan Besar Jepang menginformasikan bahwa sekitar 50 persen pelajar di Jepang mendapat beasiswa. Saat ini ada 117.927 mahasiswa asing belajar di Jepang, termasuk di antaranya 1.553 mahasiswa dari Indonesia dan 904 di antaranya di tingkat pascasarjana.

Dari jumlah tersebut, sebagian besar adalah mereka yang menerima beasiswa, baik dari pemerintah Jepang, instansi, maupun perusahaan lainnya. Beasiswa pemerintah Jepang yang cukup dikenal masyarakat Indonesia adalah beasiswa dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Olahraga, Ilmu Pengetahuan, dan Teknologi Jepang (Monbukagakhusho/MEXT). Beasiswa ini meliputi biaya studi dan biaya hidup, tanpa ada ikatan apa pun.

family_children_jap_edu_sys.jpg ''Kebanyakan pelajar yang datang ke pameran masih terkesan bingung, cuma ambil brosur di sana-sini. Padahal kalau mereka sudah punya tujuan, belajar di instansi mana dan bidang apa yang dipelajari, maka mereka tinggal masuk stan-stan universitas yang ada,'' ujar Staf Humas Perhimpunan Alumni dari Jepang (Persada), Muhammad Surya.

Menurut Surya, bila seorang pelajar sudah menentukan tujuan, instansi pendidikan, dan bidang keahlian yang diinginkan, selanjutnya mereka bisa mempersiapkan diri mempelajari bahasa Jepang. ''Ini karena bahasa pengantar di sana bahasa Jepang, meskipun dosen-dosennya mahir berbahasa Inggris,'' jelasnya.

Franky, seorang pelajar SMA yang mengunjungi pameran pendidikan Jepang mengatakan, ia berminat belajar di Jepang karena sejak kecil sering membaca komik Jepang, animasi, dan drama Jepang. ''Saya bermimpi suatu saat akan pergi ke sana,'' ujarnya.

Sementara itu, AS melalui American Indonesian Exchange Foundation (Aminef) juga menawarkan beasiswa di beberapa universitas terkemuka serta program beasiswa yang menawarkan kesempatan mengikuti kursus bahasa Inggris di universitas-universitas di AS selama delapan minggu. Melalui Aminef dan lembaga Fulbright, pelajar Indonesia mendapat peluang meraih beasiswa studi ke AS. Tercatat ada sekitar 60 warga Indonesia yang diterima dalam beasiswa ini periode 2005-2006 dan 80 orang pada periode sebelumnya.

Iming-iming beasiswa dan mahir berbahasa Inggris menjadi minat sebagian besar pengunjung pameran pendidikan AS, termasuk Wulan, seorang pengunjung pameran. ''Saya kira AS menjadi salah satu tempat terbaik untuk memperdalam bahasa Inggris,'' ujarnya.

Menurut staf dari Aminef, Hanif Saleh, animo pelajar Indonesia yang demikian besar untuk bersekolah ke luar negeri adalah wajar. Ia memperkirakan sudah ada ribuan remaja Indonesia yang belajar di sekolah-sekolah menengah atas di luar negeri.

Selain faktor beasiswa, faktor keinginan orang tua juga tak boleh dilupakan. Selama pameran pendidikan AS, hampir sebagian besar pelajar yang mengunjungi pameran memang didampingi orang tua.

Banyak alasan mengapa orang tua menyekolahkan anaknya ke luar negeri. Yang paling sering didengar adalah adanya ketidakpuasan dengan sistem pendidikan di Indonesia. Banyak kalangan masih menilai sistem pendidikan di Indonesia merupakan sistem pendidikan yang kurang memberi kesempatan kepada anak untuk berkembang dengan baik.

Satu lagi alasan yang sering disebut, kata Hanif, adalah membuka wawasan anak, memberi kesempatan anak untuk bergaul dengan anak-anak mancanegara yang sebaya, mempelajari adat-istiadat dan kebiasaan setempat. ''Sehingga nantinya anak tidak merasa kaku, takut atau merasakan rendah diri dalam pergaulan dengan orang luar negeri,'' jelasnya.

Anak yang bersekolah di luar negeri secara otomatis akan menguasai bahasa Inggris dengan fasih dan akan mengenal seluk-beluk kehidupan dan kebiasaan di luar negeri. Nantinya, sekembali ke Indonesia ini akan menjadi modal yang manfaatnya tak ternilai. ''Tentu, untuk mencapai itu, seorang anak yang pertama kali menginjak bumi di negeri yang belum dikenal, mula-mula masih perlu dituntun, dibina, dan diarahkan,'' tegas Hanif.

Hanif menambahkan, alasan orang memilih sekolah di luar negeri tidak hanya karena kualitasnya saja. Ada hal-hal lain yang menjadi pertimbangan orang untuk sekolah di luar negeri. Hanif mencontohkan, jika hanya memandang kualitas pendidikannya saja, dirikan saja sekolah luar negeri yang sudah terkenal kualitasnya di Indonesia. Dengan kurikulum dan tenaga pengajar yang sama, maka kualitasnya pun akan sama.

Namun, ujar Hanif, ada hal-hal yang tidak akan didapat jika menerapkan sistem seperti itu. Jika seseorang kuliah di luar negeri, lanjut dia, ia akan mendapatkan pengalaman internasional. ''Selain itu ia juga belajar budaya negara tujuan yang terkenal memiliki budaya maju. Seperti disiplin dan etos kerja yang tinggi. Juga pembelajaran bahasa asing yang lebih baik,'' jelasnya.

Rencana Studi di Luar Negeri:

  1. Menyusun rencana studi
  2. Apa tujuan belajar di luar negeri?
  3. Lebih baik belajar di instansi yang mana?
  4. Berapa lama studinya?
  5. Apa yang akan dipelajari?
  6. Kapan Mulai?
  7. Berapa biaya yang dibutuhkan?

Informasi Belajar di Jepang:

 Informasi Belajar di AS:

Dipublikasikan di : , Karir & Pendidikan
Jadikan favorit Print Kirim ke teman Artikel terkait

Komentar Pengunjung (0)

No comment posted

Add your comment



mXcomment 1.0.6 © 2007-2009 - visualclinic.fr
License Creative Commons - Some rights reserved
RSS 1.0
rss20.png
daftarthumb.png

Firefox 2